Senin, 21 Oktober 2013

Untuk sebuah Rindu


Lagu From the Beginning Until Now-nya Ryu mengalun lembut mengisi setiap sudut kamarku. Siapa yang menelfon sepagi ini? Aku menatap layar hp. Terpaku. Kapan terakhir kali aku melihat namanya tertera di layar itu? Sudah lama sekali. Aku tidak bisa lagi mengingat kapan.

“Halo,” akhirnya aku menjawab dengan suara parau, khas bangun tidur. Lebih parau dari biasanya, bahkan aku sampai kaget sendiri dengan suaraku.

“Hai, gimana kabarmu?” benar itu suaranya. Aku hapal sekali.

“Aku baik. Kau?” aku merasakan suaraku tercekat di tenggorokan.

“Aku juga baik,” kemudian ia bergumam dan berkata, “Aku merindukanmu.”

Apa? Dia bilang apa? Oh, tidak. Jantungku tiba-tiba berhenti sepersekian detik untuk kemudian berdetak dua kali lebih cepat. Apa aku salah dengar?

“Halo?”

“Eh, iya. Kau barusan bilang apa?” aku baru sadar kalau masih terdiam.

Dia menghela nafas berat, “Aku barusan bilang kalau aku merindukanmu.” Kemudian dia menggerutu, “Kenapa harus mengatakannya dua kali sih?”

Aku tertawa kecil, dia masih seperti dulu. Aku senang mendapati bahwa ia tidak berubah. “Aku juga.” aku menunduk malu-malu mengakui bahwa aku juga merindukannya, seolah-olah dia sedang berdiri tepat di hadapanku.

“Juga apa?”

“Aku juga merindukanmu. Kau tak perlu memintaku untuk mengatakannya dua kali kan?” pintaku memelas. Hei, pipiku memerah. Untung di depanku tidak ada cermin. Mukaku pasti semerah tomat.

Dia tertawa renyah, “Kau tidak berubah ya? Aku sempat cemas kalau-kalau tak mengenalimu lagi, tapi ternyata kau masih sama polosnya dengan kemenakanku yang berumur lima tahun.”

“Kau pikir aku berubah jadi apa?” aku mendengus kesal.

“Nenek sihir,” jawabnya spontan, persis seperti jawaban anak kecil ketika ditanya siapa tokoh paling jahat dalam dongeng putri salju?

Tiba-tiba pagi ini terasa begitu hangat dan nyaman. Kicauan burung terdengar lebih merdu dari biasanya. Hei, bagaimana pula pagiku bisa berubah jadi begitu indah? Ini pasti karenanya. Karena namanya yang selama ini selalu ku sisipkan di setiap do'a panjangku, dengan pengharapan bahwa ia akan kembali suatu saat nanti. Dan lihatlah sekarang, dia telah kembali. Aku bahagia do'aku terkabul. 

Ada dua jenis kerinduan. Kerinduan pertama, tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua, tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu. (Fahd Djibran)




**

Fiksi ini pernah ku posting sebelumnya menjelang akhir tahun 2012 tepat setahun yang lalu, tapi sad ending, lalu kemudian ku hapus. Hehe. Trus ku pikir-pikir lagi kenapa nggak dijadikan happy ending aja? Ya udah deh, fiksi ini pun terlahir kembali. :)




Gambar diambil dari sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar