Senin, 10 Desember 2012

Hidup Itu Keras




Bagaimana rasanya ketika tiba-tiba semua orang menjauhi dan menghindarimu? Bagaimana rasanya ketika orang-orang berbicara di sampingmu, mengabaikanmu seolah-olah kau tidak berada disana? Bagaimana jika keadaan ini berlangsung setiap hari di sepanjang tahun dalam hidupmu? Sanggupkah?

"Hidup itu keras, kawan!" bayangan di cermin itu berbicara padaku dengan senyum hambar. "Kau harus tahu, saat kau berada di sini semua akan tampak jauh berbeda. Yang baik akan dijauhi dan dimusuhi, yang buruk akan disenangi. Sehingga kau tidak bisa lagi membedakan mana yang lebih baik, menjadi yang baik atau yang buruk." Aku masih menatap bayangan itu tak berkedip, kemudian bayangan itu terbuyarkan dan aku hanya bisa melihat diriku sendiri di dalam cermin.

Akhirnya aku mengerti. Kau bisa saja menjadi anak yang baik, dan penurut. Tapi hidupmu tidak akan mudah, percayalah. Terlebih jika kau pintar dan rupawan. Kenapa? Karena di tempat ini dengan semua kelebihan yang kau miliki, kau akan disayangi sekaligus dibenci. Tidak masalah jika satu-dua yang membencimu, tapi ia akan terus mencari pembenaran atas kebenciannya dengan mempengaruhi orang lain dan mencari-cari kesalahanmu. Dan kabar buruknya, ini berlangsung setiap hari saat kau sarapan, saat kau harus mengerjakan piket rutinmu di sore hari, ketika makan malam, ketika belajar dan bahkan saat kau tidur sekalipun. Kau akan merasa hidupmu seperti digerogoti pelan-pelan dan kau berkali-kali akan menyerah karenanya. Kau akan menjadi orang pertama yang seharusnya tidak ada, seolah-olah mensuggesti dirimu agar kau berpikir bahwa kau telah melakukan sebuah kesalahan. Kau tidak salah, bagaimana mungkin kau menjadi orang yang baik lalu kemudian disalahkan?

Tapi bukankah dari luar semua tampak biasa dan baik-baik saja? Tentu. Karena hidup ini keras, maka yang kuatlah yang akan tetap bertahan menjadi diri sendiri. Ia akan menyembunyikan kepedihannya dan berusaha terlihat sebiasa mungkin untuk menghindari pertanyaan dari orang-orang yang ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang ia rasakan. Terlebih karena ia tahu, bahwa tidak semua orang mengerti apa yang ia rasakan.



Memoar di Panti Asuhan, tanggal 11 Maret 2009

**


Gambar diambil dari sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar