Sabtu, 08 Desember 2012

Nostalgia

Enam tahun yang lalu..

Jam istirahat siang, masih ada 2 jam pelajaran lagi sebelum pulang, Akuntansi Industri. Aku berusaha mensejajari langkahnya yang lebar, setengah berlari setelah menyadari dengan hanya mengangkat rok saja ternyata tidak cukup membantu. "Hei, kau bisa berjalan lebih pelan tidak?" aku mengikutinya sambil menggerutu.

Dia mendadak berhenti dan menoleh, "Aku lapar sekali, tadi pagi tidak sempat sarapan. Kau mau makan apa? Aku yang traktir." Ia lalu menarik tanganku dan berjalan ke arah kantin sekolah.

"Kau menang lomba apa kemaren? Atau hari ini kau ulang tahun? Eh, tapi sekarang kan bukan bulan April. Ah, atau kucingmu beranak lagi?"

"Tidak, tidak, dan tidak. Jadi kau mau pesan apa?"

Aduh, jangan tanya makanan. Aku hampir selalu bingung kalau disuruh memilih mau makan apa. Nasi soto atau lontong pical?

"Jadi kau ingin lanjut kuliah?" Suaranya menyadarkanku.

"Ya, menurutmu?"

"Baguslah."

"Cuma itu?" Kami memilih meja yang paling ujung dekat jendela.

"Lalu kau ingin aku menjawab apa?" Aku tersenyum kecut, bukan jawaban yang memuaskan. "Aku rasa, aku belum menemukan apa yang ku cari," sambil menatap piring mie goreng di atas meja.

"Sejak kapan kau suka mie goreng?" ia mengunyah tahu sambil menuangkan air ke gelasnya. "Aku sepertinya salah pesan," masih menunduk bicara sama piring mie goreng. Oh, baiklah. Mie goreng juga lumayan.

"Lalu apa buruknya kalau aku kuliah?"

"Kupikir nanti kau akan berubah jadi orang lain yang kemudian tak ku kenali lagi. Kau sibuk dengan dirimu sendiri dan tak peduli lagi padaku." Sekarang dia sudah minum 2 gelas karena kepedasan.

"Tentu saja tidak."

"Eh, apa ada jurusan yang tidak perlu belajar Matematika dan Bahasa Inggris?."

Aku mengangkat alis heran. 

"Oh, tidak ya? Berarti tidak jadi."

"Ya ampun. Yang benar saja?"

"Tidak perlu sehisteris itu. Kalaupun memang ada, aku tak ingin kuliah dulu, mungkin kerja dan setelah itu menikah."

**

Di suatu pagi, sehari setelah upacara kelulusan di kampus, aku menerima sebuah pesan di inbox hp. Pesan darinya, teman sepergalauan ketika sekolah menengah dulu.

"Jadi sudahkah kau temukan apa yang kau cari?"

Aku tersenyum dan cepat-cepat membalas. "Belum." Pesan terkirim. Tidak lama balasan darinya pun datang.

"Jangan tunggu salsa pinter ngomong dan masuk sekolah dulu baru kamu menikah, dan aku baru dipanggil buk de sama anakmu."

Aku telah tertinggal selangkah dari teman sepergalauan-ku ini, yang telah menyempurnakan separuh dien-nya beberapa tahun yang lalu. Tapi menikah bukanlah tentang siapa yang paling dulu atau siapa yang paling akhir. Menikah juga bukanlah sebuah perlombaan, siapa yang menang atau siapa yang kalah.

Kemudian aku hanya membalas pesannya dengan emotication smile, karena aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.



Gambar di ambil dari sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar