Senin, 10 Desember 2012

Hidup Itu Keras




Bagaimana rasanya ketika tiba-tiba semua orang menjauhi dan menghindarimu? Bagaimana rasanya ketika orang-orang berbicara di sampingmu, mengabaikanmu seolah-olah kau tidak berada disana? Bagaimana jika keadaan ini berlangsung setiap hari di sepanjang tahun dalam hidupmu? Sanggupkah?

"Hidup itu keras, kawan!" bayangan di cermin itu berbicara padaku dengan senyum hambar. "Kau harus tahu, saat kau berada di sini semua akan tampak jauh berbeda. Yang baik akan dijauhi dan dimusuhi, yang buruk akan disenangi. Sehingga kau tidak bisa lagi membedakan mana yang lebih baik, menjadi yang baik atau yang buruk." Aku masih menatap bayangan itu tak berkedip, kemudian bayangan itu terbuyarkan dan aku hanya bisa melihat diriku sendiri di dalam cermin.

Akhirnya aku mengerti. Kau bisa saja menjadi anak yang baik, dan penurut. Tapi hidupmu tidak akan mudah, percayalah. Terlebih jika kau pintar dan rupawan. Kenapa? Karena di tempat ini dengan semua kelebihan yang kau miliki, kau akan disayangi sekaligus dibenci. Tidak masalah jika satu-dua yang membencimu, tapi ia akan terus mencari pembenaran atas kebenciannya dengan mempengaruhi orang lain dan mencari-cari kesalahanmu. Dan kabar buruknya, ini berlangsung setiap hari saat kau sarapan, saat kau harus mengerjakan piket rutinmu di sore hari, ketika makan malam, ketika belajar dan bahkan saat kau tidur sekalipun. Kau akan merasa hidupmu seperti digerogoti pelan-pelan dan kau berkali-kali akan menyerah karenanya. Kau akan menjadi orang pertama yang seharusnya tidak ada, seolah-olah mensuggesti dirimu agar kau berpikir bahwa kau telah melakukan sebuah kesalahan. Kau tidak salah, bagaimana mungkin kau menjadi orang yang baik lalu kemudian disalahkan?

Tapi bukankah dari luar semua tampak biasa dan baik-baik saja? Tentu. Karena hidup ini keras, maka yang kuatlah yang akan tetap bertahan menjadi diri sendiri. Ia akan menyembunyikan kepedihannya dan berusaha terlihat sebiasa mungkin untuk menghindari pertanyaan dari orang-orang yang ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang ia rasakan. Terlebih karena ia tahu, bahwa tidak semua orang mengerti apa yang ia rasakan.



Memoar di Panti Asuhan, tanggal 11 Maret 2009

**


Gambar diambil dari sini

Sabtu, 08 Desember 2012

Nostalgia

Enam tahun yang lalu..

Jam istirahat siang, masih ada 2 jam pelajaran lagi sebelum pulang, Akuntansi Industri. Aku berusaha mensejajari langkahnya yang lebar, setengah berlari setelah menyadari dengan hanya mengangkat rok saja ternyata tidak cukup membantu. "Hei, kau bisa berjalan lebih pelan tidak?" aku mengikutinya sambil menggerutu.

Dia mendadak berhenti dan menoleh, "Aku lapar sekali, tadi pagi tidak sempat sarapan. Kau mau makan apa? Aku yang traktir." Ia lalu menarik tanganku dan berjalan ke arah kantin sekolah.

"Kau menang lomba apa kemaren? Atau hari ini kau ulang tahun? Eh, tapi sekarang kan bukan bulan April. Ah, atau kucingmu beranak lagi?"

"Tidak, tidak, dan tidak. Jadi kau mau pesan apa?"

Aduh, jangan tanya makanan. Aku hampir selalu bingung kalau disuruh memilih mau makan apa. Nasi soto atau lontong pical?

"Jadi kau ingin lanjut kuliah?" Suaranya menyadarkanku.

"Ya, menurutmu?"

"Baguslah."

"Cuma itu?" Kami memilih meja yang paling ujung dekat jendela.

"Lalu kau ingin aku menjawab apa?" Aku tersenyum kecut, bukan jawaban yang memuaskan. "Aku rasa, aku belum menemukan apa yang ku cari," sambil menatap piring mie goreng di atas meja.

"Sejak kapan kau suka mie goreng?" ia mengunyah tahu sambil menuangkan air ke gelasnya. "Aku sepertinya salah pesan," masih menunduk bicara sama piring mie goreng. Oh, baiklah. Mie goreng juga lumayan.

"Lalu apa buruknya kalau aku kuliah?"

"Kupikir nanti kau akan berubah jadi orang lain yang kemudian tak ku kenali lagi. Kau sibuk dengan dirimu sendiri dan tak peduli lagi padaku." Sekarang dia sudah minum 2 gelas karena kepedasan.

"Tentu saja tidak."

"Eh, apa ada jurusan yang tidak perlu belajar Matematika dan Bahasa Inggris?."

Aku mengangkat alis heran. 

"Oh, tidak ya? Berarti tidak jadi."

"Ya ampun. Yang benar saja?"

"Tidak perlu sehisteris itu. Kalaupun memang ada, aku tak ingin kuliah dulu, mungkin kerja dan setelah itu menikah."

**

Di suatu pagi, sehari setelah upacara kelulusan di kampus, aku menerima sebuah pesan di inbox hp. Pesan darinya, teman sepergalauan ketika sekolah menengah dulu.

"Jadi sudahkah kau temukan apa yang kau cari?"

Aku tersenyum dan cepat-cepat membalas. "Belum." Pesan terkirim. Tidak lama balasan darinya pun datang.

"Jangan tunggu salsa pinter ngomong dan masuk sekolah dulu baru kamu menikah, dan aku baru dipanggil buk de sama anakmu."

Aku telah tertinggal selangkah dari teman sepergalauan-ku ini, yang telah menyempurnakan separuh dien-nya beberapa tahun yang lalu. Tapi menikah bukanlah tentang siapa yang paling dulu atau siapa yang paling akhir. Menikah juga bukanlah sebuah perlombaan, siapa yang menang atau siapa yang kalah.

Kemudian aku hanya membalas pesannya dengan emotication smile, karena aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.



Gambar di ambil dari sini

Minggu, 28 Oktober 2012

Oktober


     

     Pernah lihat rumput yang tumbuh subur di musim penghujan tidak? Mereka tumbuh serentak, hijau dan rimbun. Tunasnya mulai tumbuh setelah sepekan turun hujan, kuncup-kuncup bunga juga ikut bermekaran menghiasi tepi-tepi pagar halaman. Indah sekali.

    Musim penghujan di bulan Oktober kali ini begitu istimewa. Ini musim penghujan pertama berada di rumah setelah berkelana selama 10 tahun terakhir. Tahun depan belum tentu bisa menikmatinya lagi. Hidup selalu membawa kita ke tempat-tempat yang tak terduga, bertemu dengan orang-orang baru, dan terasing. Tapi hidup harus tetap berlanjut. Itu sunnatullah.

    Dan selalu menyenangkan ketika melewati jalan setapak penuh rumput dan semak belukar di kedua sisi jalan. Mendengarkan kicauan burung yang riang melompati tiap ranting pohon. Mendapat kejutan dengan kehadiran binatang-binatang kecil melata yang menampakkan diri ketika lewat. Malam-malam dingin disertai hujan deras. Dan selalu menyenangkan bisa menghabiskan waktu di rumah ketika hujan turun.





Gambar diambil dari sini

Minggu, 21 Oktober 2012

Sayap Kecil



Seekor burung kecil mulai membersihkan kedua sisi sayap tipisnya dengan paruh kecil nan mungil, kemudian mengepakkannya dengan perlahan. Berharap sayapnya mampu membawanya mengarungi angkasa, menuju suatu tempat yang jauh, tempat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Perlahan tapi pasti ia mulai mencoba terbang. Dan.. Bruuk!! Tubuh kecil itu jatuh berguling-guling diatas daun-daun kering pepohonan tepat di bawah sarangnya yang nyaman. Dan sekali lagi, hanya bertahan 1 meter ia terjatuh lagi. Kemudian ia terdiam dan menatap sedih kedua sisi sayapnya. Ia harus terbang, tempat itu seperti memanggilnya dari kejauhan. Ia tak menyerah dan mencoba berkali-kali, tetap saja tak berhasil. Ini hanya masalah waktu, bahwa sayap itu akan cukup kuat untuk membawanya terbang jauh, sejauh yang ia inginkan suatu saat nanti. Semoga.

***

Tulisan ini ku temukan terselip di salah satu buku catatan kuliah, yang kutulis kira-kira dua tahun yang lalu.




Gambar diambil dari sini

Sabtu, 06 Oktober 2012

Persiapan adalah separuh kemenangan



Seorang mahasiswa tingkat akhir menemui dosen pembimbing akademiknya. Dengan wajah kusut dan mata sayu, efek begadang semalam menyelesaikan perbaikan skripsi, ia berjalan gontai ke ruang dosen. Dan penjelasan itu pun mengalir dengan lancar. Mulai dari betapa susahnya mencari referensi skripsi, beratnya judul dan masalah yang diteliti, sulitnya mencari dosen untuk bimbingan, sampai gagal sidang skripsi di akhir semester dan diundur wisuda hingga tahun depan. Seperti bermain kejar-kejaran dengan waktu, merasa gagal dan ingin menyerah.

            Kemudian dosennya mengajukan sebuah pertanyaan, "Sudahkah kau memiliki rencana 10 tahun ke depan?" Tentu. Dengan mantap mahasiswa itu menjabarkan satu persatu secara rinci. Dosennya tersenyum, "Lalu kenapa kau menyerah justru di saat kau telah memiliki tujuan yang jelas dalam hidupmu?" Mahasiswa itu tertegun. "Jika kau telah memiliki satu komitmen, satu tujuan, di babak pertama kau mungkin saja gagal, tapi bukan berarti gagal untuk melangkah selanjutnya. Ingat, orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak pernah menghasilkan apa-apa." Kemudian dosen itu menepuk pundak mahasiswanya, "Nak, lebih baik kalah dalam pertempuran  memperjuangkan mimpimu, daripada harus dikalahkan tanpa kau tahu apa yang sedang kau perjuangkan."

Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan meski ia berada di jalan yang mulus sekalipun. (Thomas Carlyle)

        Semakin jelas tujuan, semakin aktif kerja Reticular Activating System di dalam pikiran, yang berfungsi sebagai magnet yang akan menarik semua informasi dan peluang yang akan membantu dalam mencapai tujuan lebih cepat. Supaya Reticular Activating System dalam pikiran bekerja optimal, kita perlu memvisualisasikan daftar tujuan yang tersusun dalam kalimat-kalimat tertulis. Lihat di 10 Langkah Jitu (The Ten-Step Goal Plan). Tujuan yang jelas dan tertulis berfungsi sebagai wiper yang akan membersihkan kaca depan dan kaca belakang kendaraan, sehingga kita tetap dapat memandang jalan yang dilalui dengan jelas, meski dalam keadaan hujan lebat sekalipun. Tujuan yang tertulis juga berfungsi sebagai obat bius, yang diperlukan sebelum menjalani operasi, yang akan membantu meredam rasa sakit ketika harus berhadapan dengan kendala dalam mencapai cita-cita. Kita harus tahu bahwa keinginan manusia selalu lebih kuat daripada kesulitan yang dihadapinya. Segala sesuatu itu diciptakan dua kali. Pertama, adalah ciptaan mental dan yang kedua adalah ciptaan fisik. Seorang arsitek tidak akan pernah bisa membangun sebuah gedung yang megah tanpa sebelumnya merancang bangunan tersebut dalam imajinasinya untuk kemudian dituangkan ke atas kertas. 

Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan, karena pengetahuan hanya terbatas pada apa yang dapat kita ketahui dan pahami saat ini, akan tetapi imajinasi mencakup seluruh dunia, dan semua yang akan kita ketahui dan pahami di masa depan. (Albert Einstein).

          Tiga alasan mengapa kita perlu menuliskan tujuan yang jelas untuk masa depan dan membuat rencana untuk mencapainya. Pertama, setiap tujuan memerlukan waktu berbeda sebelum terwujud menjadi kenyataan. Kedua, segera setelah kita mencapai satu tujuan, maka kekuatan dan kepentingan tujuan tersebut tidak ada lagi, sesuai dengan QS. Al-Insyiraah {94} ayat 7-8:

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah (urusan lain) dengan sungguh-sungguh, dan hanya kepada Tuhan-mu lah hendaknya engkau berharap.”

            Ketiga, kelimpahruahan merupakan hukum alam. Karunia Allah berlimpah ruah tersedia bagi siapapun yang mau dan berusaha meraihnya sesuai dengan sunnatullah. Jika benar kita dapat memperoleh apapun asal mau bekerja keras-cerdas-ikhlas untuk mewujudkannya, mengapa harus membatasi diri dengan memiliki sedikit keinginan?

Disaat kita menginginkan sesuatu, maka semesta akan berkonspirasi untuk membantu mewujudkannya. (Paulo Coelho)

               Kenapa kita perlu membuat rencana minimal 10 tahun ke depan? Karena kebanyakan orang terlalu menilai tinggi apa yang bisa mereka capai dalam waktu satu tahun, namun menilai rendah apa yang bisa mereka capai dalam satu dekade. Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas segala hal yang pernah kita inginkan tapi tak pernah kita lakukan. Bukan atas hal yang pernah kita lakukan meski awalnya itu sebuah kesalahan.

Kebanyakan orang tidak mengfungsikan otaknya dengan aktif dan penuh tujuan. Otak ibarat mesin yang tidak memiliki tombol “off”. Jika kita tidak memberinya tugas yang berarti, otak akan berjalan terus menerus tanpa tujuan hingga kita menjadi bosan. Lalu bayangkanlah bagaimana hidup kita tanpa tujuan? Itu seperti sebuah mobil tanpa gas. Kita bisa saja berada di dalamnya selama yang kita inginkan, tapi mobil itu tak akan membawa kita kemana-mana.

Dengan tercapainya semua tujuan tidak serta merta membuat kita bahagia. Tetapi proses perubahan yang terjadi di dalam diri kita pada saat mengatasi semua kesulitan inilah yang justru dapat memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Yakinlah setiap kejadian, setiap orang yang ditemui, setiap hal yang dilakukan memiliki tujuan dan tujuan itu selalu untuk kebaikan kita.

“Barangsiapa yang kalbunya selalu disertai dengan kebaikan, niscaya keburukan tak akan dapat membahayakannya. Barangsiapa yang kalbunya selalu disertai dengan keburukan, niscaya kebaikan tidak akan berguna baginya.” (Al-Hadist)

          
**

Rancanglah masa depanmu sekarang juga, karena disitulah engkau akan menghabiskan sisa hidupmu. Persiapan adalah separuh dari kemenangan, kawan! :)





***


Bahan bacaan: Majalah Noer edisi September 2005, La Tahzan oleh ‘Aidh al-Qarni, Pencerahan Total oleh Pasha Agoes, The Sience of Luck oleh Bong Chandra, dan Moga Bunda Disayang Allah oleh Tere Liye. 


Gambar diambil dari sini

Minggu, 01 Juli 2012

Ciri-ciri orang yang tercerahkan




1.      Ada perasaan bahagia yang mendalam yang bisa dirasakan tanpa harus melakukan apa-apa atau pergi  kemana-mana.

2.      Terasa kehangatan, kenyamanan, ketenangan, dan keringanan jika kita berada di dekat orang tersebut.

3.      Mereka tidak pernah khawatir akan masa depan. Mereka tidak pernah berkata, “Bagaimana nanti kalau begini, bagaimana nanti kalau begitu?” Tidak ada over-anticipation (terlalu antisipasi ini-itu). Mereka tahu bahwa semua sudah ada jalannya.

4.      Mereka tidak pernah mengeluh yang berlebihan. Kalau sakit mereka ke dokter atau minum obat. Kalau lelah mereka tidur.

5.      Mereka berpikir dan bertindak sederhana. Berkata-kata yang sederhana, dan berjalan di muka bumi dengan sederhana.

6.      Mereka tidak pernah mempunyai niat terselubung. Niat mereka selalu jelas dan tidak pernah membawa keburukan bagi orang lain.

7.      Mereka mempunyai kemampuan untuk membahagiakan diri sendiri. If you don’t love yourself, you can’t give love to anybody else. 

8.      Mereka tidak pernah membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan orang lain atau dengan dirinya sendiri di masa lalu. This is now, I am here. Nothing else matter.

“Agar dapat menjadi benar-benar bahagia, satu-satunya hal yang diperlukan adalah untuk menahan diri dari membandingkan momen ini dengan momen di masa lalu, yang seringkali juga kurang saya nikmati, karena saya sibuk membandingkannya dengan sebuah momen di masa depan.” (Andre Gide).

9.      Mereka selalu berbuat yang bermanfaat, walaupun hanya hal kecil.

10.  Mereka selalu bertanggung jawab penuh atas kehidupannya. Mereka tidak pernah menyalahkan orang lain atau lingkungan atas apa yang terjadi dalam kehidupannya.


Sumber: Pencerahan Total, oleh Pasha Agoes : seorang penulis, konsultan, dan pelatih (State University of New York at Buffalo, USA)


*Baca juga tentang Apa yang memakanmu, kawan!





Gambar diambil disini




Tuliskan rencana hidupmu sekarang!

Mari kita menuliskan rencana dan tujuan yang ingin dicapai di masa depan dengan menuliskan beberapa langkah di bawah ini untuk kemudian merumuskan sendiri jawabannya. Ini hanya sebagai panduan dasar, anda bisa menambahkan poinnya sesuai kebutuhan. :)

The Ten-Step Goal Plan (10 Langkah Jitu)
 
1. Apakah  yang ingin anda capai?

2. Apakah yang harus anda lakukan dan apakah yang orang lain harus lakukan? min 20 bh dan 1 bh

3. a. Buatlah hasilnya serinci mungkin!
 ~     Berapa lamakah waktu yang saya butuhkan?
 ~    Kapankah tenggat waktu tujuan saya ini?

     b. Apakah bukti bahwa anda telah mencapainya?

     c. Bagaimana anda tahu bahwa anda telah mencapai apa yang ingin anda capai?
       ~   Apakah yang anda lihat? 
       ~   Apakah yang anda dengar? 
       ~  Apakah yang anda rasakan? 
 
4. Apakah hal terakhir yang harus terjadi sebelum anda mendapatkan hasil tersebut?

5. Apakah modal yang anda miliki, atau dapat anda ciptakan untuk mendapatkan hasil yag anda inginkan?

6. Apa yang harus anda korbankan? (dari segi waktu, materi dan perasaan)

7. Apakah dampak positif yang bisa anda rasakan langsung dari apa yag anda lakukan sekarang?

8. Apakah kaitan antara tujuan ini dengan tujuan hidup anda yang lebih besar? (contohnya: tujuan ini 
memungkinkan saya mencapai kemandirian financial sehingga mendukung tercapai tujuan saya yang ini… )
 9. Apakah hal-hal kecil yang bisa anda lakukan?

10. Apakah tujuan ini sesuai dengan identitas diri anda?



 


Sumber: Buku motivasi yang berjudul Pencerahan Total, karya Pasha Agoes :seorang penulis, konsultan, dan pelatih (State University of New York at Buffalo, USA)



Senin, 21 Mei 2012

Pelangi Kehidupan


Sebenarnya kenangan adalah pelangi hidup kita, cantik dan indah. Merah seperti buah apel, manis di dalamnya. Jingga bak kobaran nyala api seperti tak akan pernah padam. Kuning seperti matahari yang menyinari hari-hari kita. Hijau bagai tanaman yang tumbuh subur. Biru seperti air yang jernih begitu alami. Ungu bagaikan bunga yang menjelang mekar. Dan Nila-Lembayung seperti mimpi-mimpi yang memenuhi hati.

Dari jaluran warnanya dapat kita mengenali keindahan, dari perjalanan masa dapat kita menginsafi satu episode suka dan duka, dan dari perjalanan rentetan kisah dapat kita mengambil pelajaran. Semua berhikmah dan apa yang baik menjadi teladan dan apa yang buruk menjadi pengajaran agar tidak terjadi untuk kedua kalinya. 

Lihatlah air sungai, airnya tetap mengalir walaupun berjuta batu menghalang. Jika sedih, lihatlah ke langit, kita akan sadar Allah senantiasa bersama. Dan Allah tidak akan memberi ujian dan cobaan di luar batas kesanggupan hamba-Nya, sesuai dengan firman Allah :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Q.S. Al-Baqarah:286)

Mari kita renungkan :

1. Saat kita memohon kekuatan kepada-Nya, Allah memberi kita kesulitan untuk membuat kita kuat.
2. Saat kita memohon kebijakan kepada-Nya, Allah memberi kita persoalan untuk diselesaikan.
3. Saat kita memohon kemakmuran kepada-Nya, Allah memberi kita otak dan tenaga untuk bekerja.
4. Saat kita memohon keteguhan hati kepada-Nya, Allah memberi kita bahaya untuk diatasi.
5. Saat kita memohon cinta kepada-Nya, Allah memberi kita orang-orang bermasalah untuk ditolong dan dikasihani.
6. Saat kita memohon kemurahan hati kepada-Nya. Allah memberi kita kesempatan-kesempatan.

Lihatlah ke laut, airnya cantik dan membiru dan penuh dengan ketenangan, tapi hanya Allah saja yang tahu rahasia di dalamnya. Begitu juga dengan kehidupan manusia, riang gembira tapi hanya Allah yang tahu kehidupannya.

Waktu memang berlalu dan berlalu, namun kenangan yang tersimpan tak akan hilang dari ingatan, dan kita terus berjuang melawan segala ujian yang menyempurnakan cita-cita. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang dicapai dengan cobaan, semakin banyak cobaan yang dilalui berarti semakin besar kebahagiaan yang ditabungkan untuk masa depan.

You just need to believe :

“All great things have small beginning. As you saw, so will you reap! It is no use crying over spilt milk.”






Gambar diambil dari sini



25 Agustus 2009

Senin, 30 Januari 2012

Untuk sebuah Keberanian


”Aku akan keluar”, kata-kata ini sudah berkali-kali ku dengar. Satu per satu dari mereka, seperti menunggu giliran saja. Dan seperti sebelumnya, tak satupun dari mereka yang mampu ku cegah. Keputusan itu telah bulat. Ini bukan kata yang spontan terucap atau mungkin hanya sekedar kata-kata kosong tanpa makna, ini tentang pilihan hidup dan komitmen. Ah, tahu apa anak-anak  belasan tahun ini tentang komitmen, yang mungkin sebagian orang dewasa akan menilai bahwa ini hanyalah suatu bentuk dari ketidaknyamanan mereka saja. Orang dewasa terlalu banyak memikirkan sesuatu, sebab-akibat, kontradiktif, atau apalah namanya segala pemikiran yang bagi mereka terlalu rumit untuk dicerna. Dan lihatlah, keputusan itu telah bulat.

Apa ada yang peduli ketika mereka  tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan murung? Kemudian menghabiskan banyak waktunya di sudut-sudut ruangan kosong, berperang melawan diri sendiri. Ketika mereka kemudian menghabiskan waktunya berjam-jam lebih lama diatas tempat tidur, berusaha melelapkan pikiran dan berharap matanya tidak terbuka lagi. Saat mereka dikucilkan hanya karena berbeda, sehingga ia membenci dirinya sendiri. Apa salahnya jika ia begitu berbeda, bukankah setiap orang punya caranya sendiri untuk hidup? Apa ada yang peduli bahwa mereka tertekan? Tidak.

Mereka hanya ingin dianggap ada, mereka hanya ingin kehadirannya dianggap berarti, mereka hanya ingin dicintai. Itu saja. Lihatlah begitu sederhananya keinginan mereka. Maka lupakan masalah sistem, orang dewasa terlalu rumit.

Bagiku keputusan mereka adalah sebuah keberanian hidup. Keberanian untuk memilih dan keberanian untuk memutuskan.

Akhirnya, hidup itu seperti siklus. Naik dan turun. Senang dan bahagia. Berawal dan berakhir. Dan perjalanan panjang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

**
Sebuah memoar di Panti Asuhan, tentang keputusan.



Gambar diambil dari sini