Sabtu, 03 Desember 2011

Desember


Suatu pagi di awal bulan Desember yang dingin, suhu menunjukkan angka 21,5 ‘C, dingin sekali. Aku mulai curiga jangan-jangan sedang terperangkap di balok es. Suhu segini saja udah berasa dingin banget, apalagi jika berada di suatu tempat dengan suhu minus derajat celcius. Masya Allah!

Beberapa minggu terakhir aku mulai rajin mencatat suhu udara, merasa bersyukur sekali dapat jam kubus pemberian kakak laki-lakiku lengkap dengan tanggal dan temperatur udara di dalamnya. Kupikir suhu di kos tidak sedingin di rumah yang tepat berada di bawah Bukit Barisan, tapi justru sebaliknya. Jadinya tiap pagi ku akan dengan senang hati memanaskan kembali air semalam yang bakal bikin masuk angin ketika nekat meminumnya, hanya untuk sekedar memaksa tubuhku bergerak agar tidak membeku kedinginan.

Aku tidak suka udara dingin, terlepas dari remeh temeh dan ritual yang harus ku lakukan menjelang tidur agar tidak terbangun di tengah malam hanya karena lupa pakai kaos kaki, tapi lebih karena aku memang tak mampu bertahan ketika musim dingin seperti ini. Sehingga sweater, kaos kaki dan selimut tebal adalah sahabat paling berjasa bagiku melewatkan ganasnya udara dingin. Bahkan tangan dan kakiku akan tetap dingin membeku sampai lewat tengah hari atau bisa saja sepanjang hari jika matahari memutuskan untuk tidur lebih lama di musim dingin, hehe. Aku ingat dulu teman masa kecilku akan menjerit histeris saat kakiku bersinggungan dengan kakinya, katanya ada kaki mayat yang tiba-tiba masuk ke dalam selimut kami ketika aku menginap di rumahnya waktu itu. Aku nyengir lebar, ah.. dia belum tahu saja kalo kakiku bisa membeku kapan saja. :p

Desember adalah bulan terakhir di penghujung tahun dan sekaligus bulan terakhir yang berakhiran ‘ber’, itu berarti ini adalah penghujung musim hujan dengan udara dinginnya yang menusuk, basah, dan lembab. Meski cuaca tak menentu akibat efek dari pemanasan global, semoga saja bulan Januari nanti tak sedingin Desember ini. :)








Gambar diambil dari sini

Medali Emas untuk Ayah




Bill Havens, seorang pendayung hebat yang berskala internasional ketika dalam masa karantina untuk persiapan piala dunia mendayung, ia menerima teleks yang mengatakan istrinya kemungkinan dalam 2-3 hari lagi akan melahirkan. Setelah menerima kabar, Bill memilih dan memutuskan berangkat ke kota asalnya dan berpamitan untuk tidak mengikuti kejuaraan dunia yang telah dipersiapkan untuknya. Ia memutuskan untuk menunggui istrinya yang akan melahirkan ketika itu.

Kemudian pada tahun 1952, Bill Havens mendapatkan telegram dari putranya, Frank, yang baru saja memenangkan medali emas dalam final kano 10.000 meter pada Olimpiade di Helsinki, Finlandia.

Telegram itu berbunyi,

“Ayah, terima kasih karena telah menunggui kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yang seharusnya Ayah menangkan dulu..

Anakmu tersayang, Frank.”

Saya memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa, asalkan bisa menjadi seseorang yang berarti bagi anak-anak saya. (Patrick M. Morley)

**

Saya terharu ketika membaca tulisan ini. :’)

Usia 55 tahun merupakan akhir dan perhentian berkarya, namun karya yang diinvestasikan dalam kenangan anak tidak akan berakhir hingga maut memisahkan. Pilihan, tentu ada dalam diri masing-masing, namun Bill Havens dalam cerita di atas telah memilih yang terbaik.



Gambar diambil dari sini