Selasa, 09 Agustus 2011

Detik-Detik Milikku



  
Bagiku kau seperti hujan gerimis

Datang tiba-tiba dan begitu menyejukkan

Tapi kau juga seperti embun

Pergi tiba-tiba disaat matahari mulai menghangatkanmu

Setiap detik ku menunggu

Bagaikan setahun bagaikan selamanya

Setiap detik berjalan

Selambat dan sebening kaca

Melalui setiap detik

Aku bisa melihat detik-detik

Yang jumlahnya tak terhingga

Berbaris menunggu

Harus kuakui meski ku benci menunggu

Tapi detik-detik ini harus kulalui

Harus kutaklukkan

Seperti harusnya detik ini

Untuk terus berjalan..


 **

Kata-kata yang bercetak tebal diambil dari novelnya Audrey Niffenegger yang berjudul "The Time Traveler’s Wife" dan yang tidak bercetak tebal itu kreasi sendiri. Haha. Sebenarnya ini seharusnya nggak jadi puisi sih tapi ketika aku menemukan kata-kata ini dalam salah satu paragraf di novel tersebut, tiba-tiba jadi melankolis dan lahirlah puisi ini, dengan tambahan kata-kata seadanya.


Gambar diambil dari sini