Selasa, 19 Juli 2011

Setiap Orang Memiliki Dunianya Sendiri

 Ketika kau berkunjung ke sebuah perpustakaan, mungkin pernah melihat seseorang yang begitu asyik dengan bukunya. Pernah iseng menatapnya lama-lama? Lalu apa ia menatapmu balik sambil tersenyum? Keliru. Dia bahkan tetap cuek, tak peduli. Atau mungkin kau pernah nekat mengusiknya? Lalu apa ia kemudian marah dan mengusirmu? Tidak. Ia hanya akan menatapmu tajam dan sinis, dari tatapannya seolah berkata, “Ini duniaku, kau mau apa? Hah?” Saya yakin sebelum dia benar-benar mengucapkannya, kau tentu sudah ngacir duluan.

Ini hanya bagian kecil dari orang-orang yang memiliki dunianya sendiri, dunia yang sangat berbeda dari dunia orang-orang kebanyakan. Entah itu seseorang dengan bukunya, musiknya, atau dengan imajinasinya sendiri. Apapun itu, mereka punya dunia sendiri dan mereka larut dalam dunianya seperti mudahnya butiran gula saat kau larutkan dalam air hangat. Bagaimana memisahkannya? Tak perlu, karena butiran gula dan air itu akan berpisah dan menyatu dengan sendirinya dalam keadaan tertentu, dengan ketentuan kita tahu teknisnya. Lalu bagaimana mengobatinya? Hei, ini bukan penyakit kawan! Jadi tak perlu diobati. Orang-orang seperti ini memiliki keunikan tersendiri, mereka benar-benar unik.

Khaled Hoseini dalam bukunya The Kite Runner mengatakan, "Tidak tepat kita menyatakan seseorang itu pendiam ketika menemukannya begitu asyik dengan dirinya sendiri dan tak banyak bicara. Diam mencerminkan kedamaian. Ketentraman. Diam berarti memutar ke kiri tombol 'volume' kehidupan. Sedangkan keheningan berarti menekan tombol 'off''. Mematikan semuanya."

Seseorang yang seperti ini justru memiliki banyak hal yang ingin dikatakan tetapi ia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri. Ia beranggapan bahwa tidak semua orang bisa mengerti dengan apa yang ia pikirkan, dengan asumsi kalaupun ada yang mengerti ia lebih menyukai jika ia menerima stimulus dari orang tersebut. Sebuah pepatah menyatakan bahwa orang yang sedang diam sebenarnya memiliki seratus kata untuk diucapkan. Lalu bayangkanlah jika durasi diamnya lebih lama dan bertahan untuk jangka waktu yang lebih panjang. Ia akan memiliki jutaan kata yang berlompatan ingin keluar dari pikirannya. Tidak heran kemudian kita menemukan dua orang yang baru setahun tidak bertemu tapi mereka kelihatan seperti telah terpisah bertahun-tahun lamanya, saking banyak hal yang ingin dikatakannya masing-masing. Mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk bercerita, namun merasa bahwa itu semua tetap saja tidak cukup untuk mengekspresikan segenap pikiran, gagasan dan ide mereka.
 
Gambaran diatas merupakan fase pertama. Dalam fase ini mereka hanya akan mengizinkan beberapa orang atau hanya orang yang tertentu saja yang bisa masuk dalam dunianya, hanya orang-orang yang benar-benar terpilih. Ketika ia berada diantara orang terpilih itu, ia benar-benar menjadi diri sendiri dan begitu lepas, tanpa beban. Dan dalam fase kedua, ia akan menjadi pribadi yang sangat berbeda ketika ia harus masuk dalam dunia luar dan membaur dengan orang lain, ia mampu mengubah dirinya sendiri sesuai karakter orang-orang yang berinteraksi dengannya secara otomatis, persis seperti bunglon. Hal ini sangat penting dalam fase ini, karena berinteraksi dengan lingkungan adalah kebutuhan alami manusia sebagai makhluk sosial, kebutuhan untuk diakui dan dihargai. Meski sejatinya, ia tetap merasa berarti dan nyaman dalam fase pertama. Seseorang yang seperti ini begitu  fleksibel, dinamis, dan menakjubkan.

Berbeda tak harus berarti aneh, kawan!

"Untuk sahabatku, terima kasih telah hadir. Bagi dunia engkau mungkin hanya seseorang, tapi bagi seseorang engkau lah dunianya."





Gambar diambil dari sini

Minggu, 17 Juli 2011

Indahnya Mencintai Dalam Diam


Kita mungkin akan salut melihat perjuangan seorang pemuda yang mati-matian mengungkapkan perasaan cinta kepada gadis pujaannya. Rela mengorbankan apapun yang dimiliki agar si pujaan hati terenyuh dan simpati. Tapi adakah kita yang kagum pada pemuda yang menyembunyikan perasaan cintanya? Mungkin hanya sedikit dari kita, ini sebuah ironi memang. Dan bahkan sebagian dari kita menilai mereka penakut dan tidak gentleman. Padahal, tahu apa coba kita tentang makna gentleman itu?

Ukhti, cinta yang tak terkatakan itu jauh lebih berharga daripada cinta yang terurai dengan kata-kata. Bahkan Allah memberikan penghargaan yang besar untuk pemuda yang menyembunyikan perasaannya ini, yaitu syahid.

“Barang siapa yang jatuh cinta, lalu tetap menjaga kesucian dirinya, menyembunyikan rasa cintanya, dan bersabar hingga ia mati, maka ia mati sebagai syahid,”
-HR. Al-Hakim, Khatib, Ibnu Asakir, Ad-Dailami

Bersabar disini dipahami bahwa jika seorang pemuda belum mampu untuk menikah, tapi ia bersabar dengan tetap menjaga dan menyembunyikan perasaannya karena takut pada Allah hingga ia mampu. Dan kemudian ketika dalam masa bersabarnya itu ia meninggal dunia, maka ia mati sebagai syahid. Wow, keren kan?

Maka laknat Allah yang besarlah untuk pemuda yang lebih memilih pacaran daripada menikah. Ini menghancurkan garis keturunan yang diikat kuat oleh simpul pernikahan yang suci. Pemuda seperti ini tak lebih sebagai seorang pengecut. Tak mau kan menghabiskan sepanjang hidupmu dengan seorang pemuda pengecut yang tak mampu mengucapkan janji sakral itu di hadapan Allah?

Jadi jangan terpedaya oleh seorang pemuda yang mau menerima kekuranganmu apa adanya. Itu bohong. Karna tak ada seorang pun di dunia ini yang mau menikah dengan seseorang yang serba kekurangan. Semua orang menginginkan pasangan hidup yang sempurna. Tapi tidak adil jika kau menginginkan pasangan hidup yang sempurna, sementara engkau sendiri tak sempurna. Untuk itu engkau harus berusaha dulu untuk menjadi orang yang baik, agar kelak Allah juga akan menyiapkan seseorang yang Insya Allah paling baik untukmu. Dan agar kelak ia pun juga akan bangga memilikimu. Semoga suatu saat nanti akan terlahir generasi-generasi yang cerdas, soleh, dan berkualitas dari rahim seorang wanita yang juga cerdas, soleh dan berkualitas sepertimu.

“Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”
-QS. An-Nur ayat 26

“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
-QS. Ar-Rum ayat 21

Maka tak perlu tahu dia mencintaimu atau tidak. Berbahagialah jika dia lebih memilih diam, karna kau tahu? Dia telah menjaga kesucianmu dan kehormatannya, sebelum janji sakral itu sanggup ia ucapkan. Simpan saja rasa cintamu itu, simpan untuknya nanti. Tidak untuk diungkapkan sekarang, karna jika semua telah kau luapkan sekarang lalu apa lagi yang akan kau luapkan nanti setelah menikah? Bahwa banyak pasangan yang sudah menikah dan kemudian selalu bertengkar. Karna memang sudah tak ada lagi yang bisa diluapkan. Hii.. Nggak mau kan?

Berbahagialah ukhti, demi suatu masa dimana segala rasa itu akan bersemi dengan indah atas izin-Nya..

“Tak pernah nampak bagi dua orang yang saling mencintai, sebagaimana nampaknya ketika mereka berdua telah menikah.”
-HR. Thabrani


Mari bermuhasabah melalui kutipan catatan hati dari seorang sahabat kita..

Ukhti..

Fitrah kita adalah pemalu
Dan kau indah karena sifat malumu
Lalu masihkah kau tampak menawan
Jika rasa malu itu hilang?
Jadikanlah malu sebagai selendangmu
Dan lingkupi hatimu dalam keimanan dan kesetiaan
Kesetiaan padanya yang telah Allah
Tuliskan namamu dan namanya
Di Lauhul Mahfuzh..
Jauh sebelum langit dan bumi dicipta

Hingga saatnya tiba
Simpan rasamu untuknya
Karna rasa itu begitu mulia untuk ditampakkan
Begitu sakral untuk ditumpahkan
Simpanlah rasa itu ukhti
Simpan untuknya nanti

Ukhti..

Mari merenung sejenak dan berfikir dengan tenang
Percaya takdir bukan?
Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapi
Yakinlah jodohmu tak akan tertukar
Maka mencintailah dalam hening dalam diam..

Tak perlu kau lari
Tak perlu kau hindari
Juga jangan kau sikapi dengan berlebihan
Maka mencintailah dalam diam
Agar jika memang bukan dia yang ditakdirkan untukmu
Kesucianmu tetap terjaga
Keanggunanmu tetap terbias indah

Dan cintailah dalam diam
Dalam hening..
Itu jauh lebih indah
Jauh lebih suci..

***


Gambar diambil dari sini

Apa yang memakanmu, kawan!


Pada suatu pagi, saya menghadiri perkuliahan. Dosen ternyata meminta kami untuk menulis artikel pendek tentang kegiatan para mahasiswa pada hari sebelumnya. Beliau berkeliling diantara meja-meja, sambil mengamati pekerjaan kami. Sampai akhirnya beliau tiba di meja saya, dan saya pun kaget ketika ia kemudian membungkuk dan berkata,

“Apa yang sedang memakanmu?”

Untuk sementara waktu saya tidak paham dengan pertanyaannya, tetapi saya segera sadar bahwa beliau bertanya tentang hal-hal yang sedang menyibukkan pikiran saya. Dugaan saya semakin kuat ketika beliau melanjutkan ucapannya,

“Saya amati anda sedang gelisah. Apa yang telah terjadi? Apakah anda kehilangan tanah air dan keluarga anda?”

Saya kemudian berpikir, benar juga. Kenapa saya cemas dan gelisah? padahal saya bahkan tidak kehilangan apapun. Tetapi ungkapan asing ini 'apa yang memakanmu' sungguh sebuah ungkapan aneh! Seperti ungkapan metaforik tentang dampak kegelisahan dan kecemasan. Saya tidak memahami makna sebenarnya kecuali sesudahnya, yaitu ketika saya membaca dampak kecemasan terhadap manusia. Ternyata, kecemasan itu benar-benar 'memakan kita', bukan secara metaforik. Ungkapan ini merupakan gambaran tepat mengenai hal-hal yang ada di dalam buku-buku psikofisik, yang dikenal oleh para pakar sebagai dampak kecemasan terhadap tubuh manusia.

Kecemasan dapat menyebabkan saraf tegang dan temperamen tinggi. Saraf yang tegang dapat mengubah cairan empedu di lambung menjadi cairan beracun yang bisa menggerogoti dinding-dinding lambung, sehingga mengalami peradangan. Demikianlah, kegelisahan dapat memakan dinding lambung manusia pertama kali. Terkadang, kondisinya semakin parah, sehingga menjalar ke organ-organ tubuh lainnya. Sebagian jenis penyakit (misalnya diabetes, jantung, dan otak) kembali ke satu muara, yaitu kegelisahan, kecemasan, dan rasa takut terhadap sesuatu yang tidak pasti. Setiap manusia biasanya takut terhadap sesuatu, seperti penyakit, kegagalan, kehilangan pekerjaan, kehilangan kedudukan, tidak mempunyai peran, atau mati. Tidak ada salahnya bila kita takut kepada sesuatu, tetapi dalam batas normal.

William James (1842-1910), seorang filsuf dan psikolog berkebangsaan Amerika, pernah berkata, “Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita, tetapi organ saraf kita tidak akan pernah mengampuni kita untuk selama-lamanya.” Pernyataan tersebut benar, hingga batas yang jauh. Sebagian besar kesalahan kita terhadap diri kita adalah membiarkan kecemasan, kegelisahan, dan kegagalan menguasai kita. Para penulis biografi masyhur telah meneliti kehidupan para tokoh berdasarkan titik perubahan yang menjadi awal lompatan mereka menuju kesuksesan. Dalam banyak kasus, terbukti bahwa titik tersebut adalah kegagalan telak, atau kegagalan dalam merealisasikan tujuan. Semua itu mengubah jalan hidup mereka menuju jalan kesuksesan.

Sebagian kritikus, misalnya, meyakini bahwa seandainya Thaha Husain tidak mengalami kebutaan sejak kecil, maka ia tidak akan menjadi Thaha Husain yang seluruh universitas di dunia saat ini mengoleksi disertasi-nya. Seandainya Ludwig Van Beethoven (1770-1827) tidak tuli, maka ia mungkin tidak akan menggubah simponi-simponi indah-nya, yang telah membuatnya menjadi komponis termasyhur sepanjang masa. Seandainya Charles Dickens (1812-1870) tidak merasakan penderitaan sebagai orang miskin, mungkin ia tidak akan menulis karya-karya masterpiece yang mengagumkan. Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mengubah jalan, yang justru menjadi permulaan kehidupan yang baru dan kesuksesan yang besar bagi mereka.

Lalu mengapa kita tetap berdiri sambil melipat tangan di depan dada saat masalah sedang menghalangi jalan kita? Mengapa bersedih atas kegagalan dan kesempatan yang hilang dari kita, seolah-olah kita dendam terhadap diri kita sendiri dengan bersedih dan cemas?

Kehidupan tidak akan berhenti dan air sungai tidak bisa dibendung alirannya dengan kau bersedih, kawan!

Salah seorang filsuf Yunani pernah mengatakan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan itu berubah-ubah, kecuali hukum perubahan itu sendiri. Mengapa kita mempersepsikan bahwa kehidupan akan meninggalkan hukum ini dengan beranggapan bahwa kita akan selamanya menjadi orang yang gagal? Tidak. Karna tak ada yang abadi di dunia ini, bahkan kegagalan pun tidak.

Kehidupan ini sudah seharusnya kita jalani dengan mimpi-mimpi yang pantas untuk kita perjuangkan. Keyakinan akan pertolongan Allah dan kepercayaan diri yang kuat akan meneguhkan tekad untuk menggapai mimpi itu, dengan keberhasilan kita melawan diri terhadap kecemasan. Untuk apa memikirkan dan mencemaskan sesuatu yang belum ada?

Seharusnya kita bisa berkata pada diri sendiri, “Aku akan melakukannya disaat aku harus menghadapinya, kenapa harus dicemaskan sekarang?”

Lalu apa yang masih ‘memakanmu’ sekarang, kawan??







Disadur dari buku Sayangi Dirimu, karya Abdul Wahhab Muthawi'