Minggu, 17 Juli 2011

Apa yang memakanmu, kawan!


Pada suatu pagi, saya menghadiri perkuliahan. Dosen ternyata meminta kami untuk menulis artikel pendek tentang kegiatan para mahasiswa pada hari sebelumnya. Beliau berkeliling diantara meja-meja, sambil mengamati pekerjaan kami. Sampai akhirnya beliau tiba di meja saya, dan saya pun kaget ketika ia kemudian membungkuk dan berkata,

“Apa yang sedang memakanmu?”

Untuk sementara waktu saya tidak paham dengan pertanyaannya, tetapi saya segera sadar bahwa beliau bertanya tentang hal-hal yang sedang menyibukkan pikiran saya. Dugaan saya semakin kuat ketika beliau melanjutkan ucapannya,

“Saya amati anda sedang gelisah. Apa yang telah terjadi? Apakah anda kehilangan tanah air dan keluarga anda?”

Saya kemudian berpikir, benar juga. Kenapa saya cemas dan gelisah? padahal saya bahkan tidak kehilangan apapun. Tetapi ungkapan asing ini 'apa yang memakanmu' sungguh sebuah ungkapan aneh! Seperti ungkapan metaforik tentang dampak kegelisahan dan kecemasan. Saya tidak memahami makna sebenarnya kecuali sesudahnya, yaitu ketika saya membaca dampak kecemasan terhadap manusia. Ternyata, kecemasan itu benar-benar 'memakan kita', bukan secara metaforik. Ungkapan ini merupakan gambaran tepat mengenai hal-hal yang ada di dalam buku-buku psikofisik, yang dikenal oleh para pakar sebagai dampak kecemasan terhadap tubuh manusia.

Kecemasan dapat menyebabkan saraf tegang dan temperamen tinggi. Saraf yang tegang dapat mengubah cairan empedu di lambung menjadi cairan beracun yang bisa menggerogoti dinding-dinding lambung, sehingga mengalami peradangan. Demikianlah, kegelisahan dapat memakan dinding lambung manusia pertama kali. Terkadang, kondisinya semakin parah, sehingga menjalar ke organ-organ tubuh lainnya. Sebagian jenis penyakit (misalnya diabetes, jantung, dan otak) kembali ke satu muara, yaitu kegelisahan, kecemasan, dan rasa takut terhadap sesuatu yang tidak pasti. Setiap manusia biasanya takut terhadap sesuatu, seperti penyakit, kegagalan, kehilangan pekerjaan, kehilangan kedudukan, tidak mempunyai peran, atau mati. Tidak ada salahnya bila kita takut kepada sesuatu, tetapi dalam batas normal.

William James (1842-1910), seorang filsuf dan psikolog berkebangsaan Amerika, pernah berkata, “Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita, tetapi organ saraf kita tidak akan pernah mengampuni kita untuk selama-lamanya.” Pernyataan tersebut benar, hingga batas yang jauh. Sebagian besar kesalahan kita terhadap diri kita adalah membiarkan kecemasan, kegelisahan, dan kegagalan menguasai kita. Para penulis biografi masyhur telah meneliti kehidupan para tokoh berdasarkan titik perubahan yang menjadi awal lompatan mereka menuju kesuksesan. Dalam banyak kasus, terbukti bahwa titik tersebut adalah kegagalan telak, atau kegagalan dalam merealisasikan tujuan. Semua itu mengubah jalan hidup mereka menuju jalan kesuksesan.

Sebagian kritikus, misalnya, meyakini bahwa seandainya Thaha Husain tidak mengalami kebutaan sejak kecil, maka ia tidak akan menjadi Thaha Husain yang seluruh universitas di dunia saat ini mengoleksi disertasi-nya. Seandainya Ludwig Van Beethoven (1770-1827) tidak tuli, maka ia mungkin tidak akan menggubah simponi-simponi indah-nya, yang telah membuatnya menjadi komponis termasyhur sepanjang masa. Seandainya Charles Dickens (1812-1870) tidak merasakan penderitaan sebagai orang miskin, mungkin ia tidak akan menulis karya-karya masterpiece yang mengagumkan. Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mengubah jalan, yang justru menjadi permulaan kehidupan yang baru dan kesuksesan yang besar bagi mereka.

Lalu mengapa kita tetap berdiri sambil melipat tangan di depan dada saat masalah sedang menghalangi jalan kita? Mengapa bersedih atas kegagalan dan kesempatan yang hilang dari kita, seolah-olah kita dendam terhadap diri kita sendiri dengan bersedih dan cemas?

Kehidupan tidak akan berhenti dan air sungai tidak bisa dibendung alirannya dengan kau bersedih, kawan!

Salah seorang filsuf Yunani pernah mengatakan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan itu berubah-ubah, kecuali hukum perubahan itu sendiri. Mengapa kita mempersepsikan bahwa kehidupan akan meninggalkan hukum ini dengan beranggapan bahwa kita akan selamanya menjadi orang yang gagal? Tidak. Karna tak ada yang abadi di dunia ini, bahkan kegagalan pun tidak.

Kehidupan ini sudah seharusnya kita jalani dengan mimpi-mimpi yang pantas untuk kita perjuangkan. Keyakinan akan pertolongan Allah dan kepercayaan diri yang kuat akan meneguhkan tekad untuk menggapai mimpi itu, dengan keberhasilan kita melawan diri terhadap kecemasan. Untuk apa memikirkan dan mencemaskan sesuatu yang belum ada?

Seharusnya kita bisa berkata pada diri sendiri, “Aku akan melakukannya disaat aku harus menghadapinya, kenapa harus dicemaskan sekarang?”

Lalu apa yang masih ‘memakanmu’ sekarang, kawan??







Disadur dari buku Sayangi Dirimu, karya Abdul Wahhab Muthawi'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar