Sabtu, 16 April 2016

Gelap

Bagaimana rasanya berada dalam gelap? Sesak, panik, dan buntu. Sesuatu yang akan kita rasakan ketika tiba-tiba mati lampu disaat sedang melakukan sesuatu. Lalu bagaimana jika tidak bisa melihat apa-apa sepanjang hidup? Bisakah bertahan?

Sedikit sekali kita merenungkan betapa nikmat penglihatan yang kita miliki adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Ketika melihat secara langsung orang yang tidak bisa melihat, masih bisa menjalani kehidupannya dengan baik, rutinitas kesehariannya, beribadah seperti yang lainnya. Mereka tidak mengeluh, dan menjalani hidup seperti seharusnya. Meski berada dalam kegelapan, mereka tetap bersyukur telah diberi kehidupan. Adakah yang lebih berharga dari kehidupan itu sendiri?

Kita yang diberi penglihatan justru sering dibutakan oleh kelebihan kita sendiri. Keinginan-keinginan, yang terkadang terlalu berlebihan. Lihatlah mereka, keinginan mereka sederhana saja. Menjalani hidup sebaik-baiknya.

Betapa malunya diri ini. Betapa kurangnya diri ini bersyukur. Betapa seringnya diri ini mengeluh.

Undangan (?)

Malam kemaren dapat telfon dari teman dekat waktu sekolah dulu.

"Hei, kapan nih undangan makan lamak* ke kamang? Udah kelamaan tahu aku nunggunya." Sahabat yang satu ini memang blak-blakan dari dulu. Dan ini udah kali ke berapa dia bertanya, yang kadang aku jadi hafal sendiri setiap detil kata yang ia ucapkan.

"Makan lamak? Sekarang aja. Kenapa harus nunggu undangan?" Dan aku selalu punya stok jawaban berbeda untuk menanggapinya.

"Nunggu apa lagi sih? Udah kepala tiga juga."

"Eh, tiga tahun lagi kali. Enak aja umur orang ditambah-tambah."

"Iya deh, hampir."

"Bisa nggak sih, kamu ganti pertanyaan tiap kali nelfon. Nggak bosan?"

"Lah, kamu emang nggak bosan sendiri?"

Aku terdiam. Terpaku. Lebih tepatnya, aku juga mempertanyakan hal yang sama ke diri sendiri. Mau sampai kapan sih betah sendiri? Bohong kalau aku bilang betah. Siapa sih yang mau hidup sendiri? Tapi mungkin ada benarnya juga, aku harus memikirkannya lebih serius lagi. Bukan hanya tentang usia, tapi lebih ke produktivitas seorang perempuan yang memiliki anak pertama di usia 30 th lebih, bukankah itu termasuk beresiko tinggi untuk ibu maupun bayinya?

Untuk sahabat yang selalu dengan senang hati menawarkan jasanya sebagai mak comblang saat sekolah dulu, dan selalu berakhir dengan aku yang kabur tiba-tiba begitu melihat seseorang menunggu di ujung jalan. Terima kasih sudah mencemaskanku.

***

*makan lamak : makan enak (bahasa minang)